
dok. Thinkstock
Mengapa sampai sekarang ini saya belum mendapatkan pekerjaan? Pertanyaan tersebut mungkin selalu ada di benak para pencari kerja baik yang baru lulus atau sudah lama menganggur. Anda mungkin sudah memiliki kualifikasi yang tepat dengan karyawan yang sedang dicari, tapi mengapa belum juga mendapat panggilan tes atau wawancara kerja? Hal tersebut bisa terjadi karena kesalahpahaman atau kekurangan informasi antara si pelamar maupun tempat kerja yang membutuhkan.
Banyak syarat-syarat tak tertulis dalam melamar kerja yang perlu diketahui terlebih dulu sebelum mulai mengirimkan surat lamaran. Berdasarkan lansiran dari About, berikut beberapa hal yang membuat Anda sulit mendapatkan pekerjaan dan bagaimana cara mengatasinya.
1. Cari Tahu Informasi Perusahaan Seringkali orang melamar pekerjaan ke suatu perusahaan yang ternyata belum membuka lowongan, meskipun ada beberapa yang tetap mengambil dan menyimpan aplikasi yang dikirimkan. Namun, alangkah baiknya jika sebelum Anda melamar ke perusahaan tersebut, ketahui terlebih dahulu apakah perusahaan itu sedang membuka lowongan atau tidak. Dengan begitu, peluang surat lamaran Anda akan dibaca oleh HRD lebih besar.
2. Mendeskripsikan Diri dengan Baik Sebagian orang kerap tidak dapat menjelaskan tentang dirinya sendiri dengan baik saat wawancara kerja secara langsung,tatap muka maupun via telepon. Maka sebaiknya Anda menjelaskan tentang diri sendiri dengan baik melalui surat lamaran yang akan dikirimkan. Hal tersebut untuk mendapatkan kesan pertama yang baik.
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
Membeli suatu barang branded dengan maksud meningkatkan gengsi bukanlah keputusan finansial.
Ketika Anda hendak membuat suatu keputusan finansial, misalnya membeli rumah, mobil, atau berinvestasi dalam saham, lazimnya ada pertimbangan yang mendasari. Berapa persen keputusan itu didasari pertimbangan rasional ketimbang pertimbangan emosional?
Tatkala Anda hendak membeli rumah, ada pertimbangan lokasi yang dekat dengan kantor atau berdekatan dengan keluarga. Pendeknya, ada berbagai latar dari keputusan tersebut. Tentu saja ada pertimbangan mengenai harga rumah. Pertanyaannya, berapa persen pertimbangan harga dibandingkan dengan pertimbangan lain, yang mendorong Anda untuk membeli rumah?
Namun, coba jujur, pernahkah Anda membeli suatu barang sebenarnya lebih didominasi oleh pertimbangan emosional? Artinya, tidak peduli berapa pun harga rumah tersebut, tetap Anda beli karena Anda menyukainya. Dan boleh jadi, Anda membayar terlalu mahal untuk membeli fungsi dari sebuah barang.
Itulah yang disebut dengan keputusan finansial, yang tidak berbasis argumentasi finansial. Nah, agar tidak terjebak dalam pengambilan keputusan seperti itu, ada baiknya direnungkan kembali, bagaimana baiknya pembuatan keputusan finansial itu dilakukan.
Tujuan dan budget
Pertama, pastikan dulu tujuan dari keputusan finansial Anda. Membeli rumah misalnya, apa tujuannya? Untuk tempat tinggal yang baru, atau sebagai alat investasi? Apa pun alasannya terserah Anda. Yang mesti dipahami adalah, perbedaan tujuan keuangan tersebut mestinya akan melahirkan keputusan keuangan yang berbeda. Dengan kata lain, keputusan keuangan untuk membeli suatu barang yang bersifat konsumtif akan sangat berbeda dengan keputusan keuangan yang tujuannya produktif. Dan Anda mesti memahami benar konsekuensi dari keputusan tersebut.
Kedua, menentukan berapa budget yang disediakan untuk suatu keputusan keuangan. Ini menjadi faktor penting sebab banyak kalangan membeli barang tanpa perencanaan jelas tentang biaya yang dialokasikan. Membeli barang konsumtif menggunakan kartu kredit, misalnya, maka setiap bulan, tagihan Anda akan membengkak. Atau kalau membeli rumah, penyesalan akan datang belakangan karena realitas yang diperoleh berbeda dengan harapan.
Atau ketika Anda membeli barang branded, demi ingin menaikkan status sosial. Anda sebenarnya merasa ”tidak kuat” mengeluarkan dana untuk membeli barang dimaksud, tetapi memaksakan diri agar kelihatan ”hebat” . Yang terjadi kemudian adalah penyesalan karena teman-teman Anda juga mampu membeli barang yang sama, atau malah lebih mahal ketimbang barang yang sudah Anda beli.
Membeli suatu barang branded dengan maksud meningkatkan gengsi bukanlah keputusan finansial. Itu lebih merupakan keputusan emosional yang hanya menimbulkan masalah di kemudian hari.
Purnajual dan dampak
Ketiga, aspek purnajual dari barang yang dibeli. Keputusan finansial yang tidak mempertimbangkan aspek purnajual dari suatu barang akan menimbulkan penyesalan. Perilaku finansial yang benar adalah ketika aset yang dimiliki lebih bersifat produktif ketimbang konsumtif. Demikian juga halnya dengan pembelian barang. Jika barang tersebut sudah tidak memiliki nilai produktif, termasuk ketika dijual kembali, barang tersebut tergolong biaya semata.
Dengan kata lain, barang apa pun yang dibeli sebaiknya masih memiliki nilai kalau hendak dijual kembali. Hal seperti ini berlaku buat seluruh barang yang Anda beli dan miliki.
Jika membeli suatu barang, pertimbangkan barang tersebut bisa dijual kembali pada suatu ketika dengan harga yang memadai. Keempat, dampak keputusan terhadap kondisi keuangan secara menyeluruh. Setiap keputusan finansial pada dasarnya berdampak positif ataupun negatif. Kerap kali kita lupa bahwa suatu keputusan tidak berdiri sendiri. Ketika Anda membeli rumah secara kredit, misalnya, akan berpengaruh terhadap perilaku keuangan Anda dalam mengelola pengeluaran pada masa berikutnya, karena sebagian penghasilan akan dipakai untuk mencicil angsuran kredit.
Pernahkah Anda bayangkan pengaruhnya terhadap rencana pengeluaran Anda yang lain? Artinya, bisa saja Anda mesti menghentikan salah satu pengeluaran Anda agar cash flow tidak defisit. Nah, setiap keputusan keuangan sebaiknya dianalisa pengaruhnya terhadap pengeluaran secara menyeluruh.
Argumentasi rasional
Kelima, argumentasi rasional harus lebih tinggi dibandingkan dengan alasan emosional. Dalam istilah yang lebih lazim, bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Semua pembelian yang hanya berdasarkan keinginan umumnya adalah berdasarkan emosional. Sementara pembelian yang berbasis kebutuhan juga tidak selalu rasional. Termasuk dalam hal ini adalah pertimbangan harga, aspek purnajual, dan sebagainya.
Kendati keputusan finansial Anda sudah diyakini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan, belum tentu memenuhi kriteria logis rasional. Oleh karena itu, cek sekali lagi, berapa persen aspek emosional terkandung di dalamnya.
Masih banyak faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum membuat keputusan finansial. Untuk memudahkan Anda dalam membuat keputusan, tidak ada salahnya semua alasan dicatat dan dimasukkan dalam daftar pertimbangan. Dengan daftar tersebut, Anda bisa menimbang-nimbang apakah keputusan Anda dapat dipertanggungjawabkan secara logika atau sekadar emosional belaka. Yang jelas, keputusan berdasarkan emosional biasanya akan lebih makan biaya ketimbang keputusan berdasarkan rasional. Pilihan ada di tangan Anda.
Sumber: Tribun Kaltim/Kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
Saat ini aku bekerja mengurus HR dan stok gudang. Pekerjaan ini sebenarnya sangat tidak sesuai latar pendidikan dan minat. Aku menerima untuk menambah pengalaman kerja. Namun, banyak sekali PR yang harus diselesaikan karena pekerjaan ini ditinggalkan dalam keadaan kacau oleh pendahuluku.
Saat ini aku sudah di titik jenuh karena kelelahan. Di tengah perasaan ini, aku beranikan diri untuk membangun toko online. Sudah berjalan 6 bulan dan penghasilan yang diterima belum banyak. Namun, dengan keberanian lagi, aku membuka toko, belum satu minggu, tabunganku habis.
Sekarang, aku seperti kehilangan identitas. Mau kerja, tetapi sudah di titik klimaks. Ingin berhenti, tapi tabungan habis. Apa yang harus kulakukan? Rasanya buntu. Aku sudah memperkerjakan seorang karyawan, dan akhir bulan ini harus membayar gaji dan sewa toko. Jika resign, bagaimana melanjutkan usaha ini? Jika mencari kerja terlebih dulu, baru resign, rasanya sudah malas. Mohon saran.
- Arsy, Semarang.
Arsy, pertama, tetapkan tujuan hidup Anda. Visualisasikan 5-10 tahun ke depan, Anda ingin menjadi apa. Mana yang lebih kuat, ingin menjadi karyawan berprestasi atau menjadi wirausahawan yang berhasil? Tetapkan tujuan hidup Anda dengan menggunakan prinsip SMART (Specific-Measurable-Attainable-Realistic-Timebound).
Specific berarti prestasi di bidang apa yang ingin Anda capai, sebagai apa, di bisnis apa, Measurable untuk memastikan ada tolak ukur yang pasti sebagai barometer keberhasilan, Attainable adalah sedikit di atas kemampuan Anda sehingga akan memancing adrenalin untuk mencapai tujuan, Realistic diperlukan untuk memastikan tujuannya cukup realistis, Time-bound adalah kejelasan kapan Anda bisa mewujudkannya.
Kedua, cobalah fokus pada tujuan tersebut. Fokus pada potensi positif yang Anda miliki, untuk meraih tujuan, yakni apa saja pengetahuan, skills penunjang, sikap positif, modal pendukung yang dimiliki. Cobalah untuk tidak memperbesar kelemahan yang ada, agar Anda tetap terdorong mewujudkan tujuan Anda, tidak mudah menyerah atas kendala yang Anda hadapi.
Sebagai contoh, bila saat ini Anda memutuskan berwirausaha, maka fokus pada apa saja keterampilan yang sudah dimiliki, pengetahuan yang sudah dipunyai, pelajaran berharga dari pengalaman yang diperoleh , networkyang sudah terbina, staf yang sudah ada, serta pikirkan bagaimana mengoptimalkan sumber-sumber daya ini.
Untuk solusi permodalan saat ini, dapat dipertimbangkan apakah akan Anda cover dengan menambah masa kerja di perusahaan sehingga bisa menabung untuk investasi usaha, melalui peminjaman modal (bila dimungkinkan), mengajak pemodal lain untuk bergabung, atau solusi kreatif lain.
Bergabung Dengan Komunitas
Carilah mentor di bidang wirausaha yang akan membimbing Anda me-review kembali langkah selama 6 bulan terakhir. Lalu telusuri faktor-faktor apa yang menyebabkan Anda belum berhasil mencapai target dan profit, sehingga permodalan semakin menyusut.
Bergabunglah dalam komunitas wirausaha sejenis maupun dari bisnis berbeda, untuk memperluas wawasan mengenai bidang yang ditekuni, sekaligus meniru dan memodifikasi gagasan cemerlang dalam memasarkan dan menjual produk/jasa. Mungkin Anda perlu lebih agresif mendekati pangsa pasar untuk lebih mengenal profil mereka. Dengan begitu, Anda makin tahu apa saja kebutuhan customer atas produk/jasa yang Anda tawarkan. Perbanyak riset informal di bisnis Anda.
Cari Tantangan Kerja
Bila dalam upaya menabung, Anda merasa jenuh dengan pekerjaan saat ini, cobalah temukan keasikan baru. Konsultasikan pada atasan di tempat kerja, mungkinkah Anda diberikan tantangan dengan pekerjaan/proyek baru yang lebih kompeks, apakah Anda dapat mengikuti seminar/training yang dibiayai perusahaan berkaitan dengan pekerjaan, sehingga dapat bekerja lebih optimal dan makin efektif. Pertimbangkan kemungkinan mutasi ke bagian lain yang lebih cocok dengan minat dan latar belakang pendidikan, sekiranya dimungkinkan dan tersedia lowongan.
Bila memang sudah sedemikian antiklimaks, cobalah bekerja di perusahaan lain pada bidang pekerjaan yang lebih sesuai dengan minat dan latar belakang akademis, dengan tetap fokus pada tujuan utama berwirausaha, sehingga di kesempatan yang tepat, begitu modal terkumpul, Anda siap mengundurkan diri.
Pada intinya, rasa jenuh, malas, biasanya timbul karena seseorang merasa kurang tertantang, akibat menjalankan hal yang rutin. Energi seolah terkuras habis. Temukan tantangan baru yang membuat motivasi kerja Anda kembali meningkat. Apa pun tantangannya, bila Anda memutuskan bekerja atau berwirausaha, sikapi dengan tangguh, taktis dan perluas wawasan dan pergaulan bisnis, sehingga alternatif solusi semakin terbuka luas. Selamat menelusuri potensi diri menemukan solus atas isu Anda ini. (Donna Turner, Praktisi SDM Experd/Majalah Chic)
Sumber : Tribun Kaltim/Kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
(Sumber Photo : Funzug.com) Rasanya sulit dipercaya jika ada manusia di dunia ini yang terbebas dari ikatan utang. Contohnya saja, membeli rumah yang membutuhkan dana besar sehingga memaksa kita untuk berutang. Belum lagi biaya anak sekolah hingga kuliah. Seringnya, kondisi semacam ini membuat utang sulit lepas dari tangan. Bagaimana mengatasinya?
Si utang baik
Bicara tentang utang, idealnya tak mencapai 36 persen dari penghasilan kotor Anda. Dan, patokan inilah yang biasanya dilihat oleh bank ketika akan meminjamkan dana besar, taruhlah untuk rumah. Akan tetapi, tak bijak juga jika Anda menghindari utang karena berarti seluruh penghasilan akan tersedot untuk memenuhi kebutuhan berdana besar sehingga tak ada dana cadangan untuk keperluan darurat.
Jika begitu, apa yang harus dilakukan oleh pasangan ketika dihadapkan dengan utang?
Pertama, ketahui apa yang dimaksud dengan utang baik dan utang buruk. Definisi utang baik adalah segala sesuatu yang Anda butuhkan, tetapi belum bisa didapatkan, kecuali dengan menjual semua aset.
Contoh utang baik adalah membeli rumah. Alasannya, kecil kemungkinannya bisa melunasi pembelian rumah sekaligus. Namun, jangan terlalu ambisius dalam membeli rumah idaman, pastikan Anda telah menghitung secara finansial selama masa cicilan berlangsung. Yang jelas, semakin rendah pinjaman Anda, semakin singkat pula waktu mencicil.
Yang lainnya adalah membayar pendidikan tinggi untuk anak. Daripada mengorbankan dana pensiun atau asuransi kesehatan, lebih baik Anda berutang (jika tak memiliki asuransi pendidikan). Sebab, pendidikan adalah investasi abadi dan suatu hari nanti akan menghasilkan lebih banyak lagi keuntungan material untuk sang buah hati.
Jenis utang baik lainnya yang bisa Anda ambil adalah investasi kendaraan bermotor, seperti mobil. Pertanyaannya adalah, jika Anda sudah mempunyai mobil, perlukah membeli mobil lain? Jawabannya ditentukan dari kondisi mobil yang dipakai. Jika memang sudah tua dan sering rusak, lebih baik jual dan investasikan dalam bentuk mobil yang lebih layak plus tidak rewel. Karena biaya perbaikan mobil memakan biaya besar, lho! Padahal, dananya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.
Awas utang buruk
Lantas, apa yang disebut dengan utang buruk? Ia adalah barang atau jasa yang sebenarnya tak diperlukan, tapi Anda menginginkannya, padahal penghasilan sama sekali tak mencukupi. Karakteristiknya adalah biasanya murni untuk konsumsi sesaat, membuat penghasilan bersih Anda menyusut, menghapus kemungkinan untuk investasi atau penghasilan yang lebih besar. Kasus terparah dari kasus ini adalah mismanajemen penggunaan kartu kredit yang biasanya berbunga tinggi.
Jika tak ingin terlilit utang buruk, yang harus dilakukan sebenarnya sederhana, yaitu mengetahui pola pengeluaran dan analisis mana yang tak penting atau tak diperlukan. Misalnya, ketika pergi berbelanja bulanan, Anda sering tergoda untuk membeli peranti elektronik atau aksesori, yang sebenarnya tak perlu dibeli. Hindarilah kebiasaan ini dengan meneguhkan niat atau buatlah daftar belanjaan yang mendetail sejak di rumah.
Alihkan juga pola pikir ketika berbelanja. Jangan berpikir, "Saya sudah bekerja keras, saya layak membeli baju seharga sekian juta atau berlibur ke Pantai X yang menghabiskan biaya berpuluh juta". Padahal nyatanya, utang kartu kredit Anda sudah membubung tinggi hingga jutaan rupiah. Bukankah lebih baik dana dialihkan untuk membayar cicilannya?
Bukan tidak boleh, lho, menggunakan kartu kredit. Tetapi, lebih baik gunakan untuk kebutuhan besar atau mendadak. Seperti ketika anggota keluarga sakit, kartu kredit bisa saja dipakai untuk membayar uang muka perawatan di rumah sakit sembari menunggu cairnya klaim asuransi kesehatan.
Jangan lupa juga untuk selalu membayar tagihan kartu kredit. Cobalah membayar lebih tinggi dari cicilan minimum, ya. Akan tetapi, lebih baik jika memprioritaskan membayar tagihan kartu kredit dengan bunga tertinggi dan tentukan batas maksimal pembayaran per bulan tanpa mengganggu kebutuhan primer lainnya.
Lalu, tagihan yang lainnya dibayar dengan cicilan minimum. Begitu tagihan dengan bunga tertinggi selesai, lanjutkan ke tagihan lain yang bunganya lebih tinggi lainnya setelah bunga yang pertama dan seterusnya.
Masih ada pilihan
Lantas bagaimana jika utang sudah merambat, apakah sudah terlambat? Yang terpenting adalah jangan panik karena tidak akan menyelesaikan masalah, malah memperumit. Tetaplah fokus pada tujuan utama, yaitu melunasinya.
Meski membutuhkan waktu lama dan harus mengorbankan beberapa kebutuhan sekunder, pada akhirnya semua untuk kebaikan Anda, kan? Jangan juga melanjutkan kebiasaan berutang, tidak perlu panik jika melihat sesuatu yang ingin Anda beli. Selalu pikirkan baik-baik, apakah Anda benar-benar memerlukannya? Jika ya, Anda bisa menabung atau jika Anda kurang andal menabung, ikuti saja program tabungan berencana di bank.
Terakhir, pada dasarnya yang harus dicamkan adalah bukan berapa banyak dana segar yang dimiliki, melainkan apakah ada cara untuk membuat uang Anda "bekerja keras" sehingga bisa menghasilkan lebih banyak uang lagi seperti melakukan investasi.
(Astrid Isnawati/Tabloid Nova)
Sumber: Tribun Kaltim/Kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
Bukan hal yang keliru kalau ada yang beranggapan bahwa besarnya penghasilan tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya kekayaan. Seseorang yang penghasilannya di atas Rp 10 juta sebulan, misalnya, bisa saja kehidupan keuangannya lebih ”susah” ketimbang karyawan yang penghasilannya sebesar Rp 5 juta per bulan.
Kok bisa begitu? Bisa saja. Sebab, berapa pun kecilnya penghasilan, sepanjang pengeluaran lebih rendah ketimbang pemasukan, berarti memiliki cash flow positif yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan kekayaan.
Di sisi lain, berapa pun besarnya penghasilan, jika pengeluaran lebih besar dibandingkan pemasukan, posisi keuangan akan defisit. Itu berarti sebagian kebutuhan akan dibiayai oleh utang. Dus, tidak ada sumber dana yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan aset. Yang ada adalah penurunan kekayaan secara bertahap karena aset akan dipergunakan untuk pembayaran utang.
Oleh karena itu, tingkat kekayaan seseorang sebenarnya tidak diukur dari besarnya penghasilan, melainkan lebih bergantung pada karakter pengelolaan penghasilan. Singkatnya, berapa pun kecilnya penghasilan, tetap dimungkinkan menjadi kaya jika mau dan mampu melakukan inovasi dalam pengelolaan keuangan.
Apa itu inovasi keuangan? Sederhananya adalah melakukan hal yang berbeda dalam pengelolaan keuangan. Misal, jika orang kebanyakan menggunakan kartu kredit untuk berutang, dalam koridor inovasi keuangan, penggunaan kartu kredit adalah untuk memanfaatkan tenggang pembayaran sehingga Anda bisa menggunakan dana pihak lain, dalam kurun waktu tertentu tanpa biaya apa pun.
Jadi, jika Anda berbelanja pada hari ini dan kemudian melunasinya sebelum jatuh tempo, berarti Anda bisa mendapatkan tambahan cash flow dalam kurun waktu tersebut, yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal.
Bayangkan, jika Anda bisa membeli barang dengan harga ”X”, misalnya, lalu menjualnya kembali dengan harga ”X” plus keuntungan, Anda telah berbisnis tanpa modal dan bahkan memperoleh untung. Dengan kata lain, utang yang digunakan untuk kegiatan produktif merupakan salah satu inovasi keuangan. Apalagi jika utang itu sendiri diperoleh tanpa biaya apa pun, seperti penggunaan kartu kredit di atas.
Bagaimana jika utang itu menimbulkan biaya bunga? Tidak masalah. Sepanjang biaya bunga masih lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh, tetap saja Anda tergolong kalangan yang inovatif. Jadi, ringkasnya, menumbuhkembangkan aset bisa dilakukan tanpa modal. Modal itu diperoleh dari utang. Lalu dipergunakan untuk berbisnis. Dan hasil bisnis tersebut mampu memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan biaya utang itu sendiri.
Aset produktif
Contoh inovasi keuangan lainnya adalah memiliki sebanyak mungkin aset produktif dibandingkan aset konsumtif. Pernahkah Anda melihat pedagang yang tinggal di sebuah ruko, di mana lantai paling bawah digunakan untuk berdagang, sementara lantai di atasnya digunakan sebagai tempat tinggal?
Artinya, tempat usaha dan rumah tinggal menjadi satu. Dengan kata lain, rumah tinggal si pedagang tersebut bukan sekadar rumah tinggal, tetapi telah menjadi aset produktif yang bisa menghasilkan uang, alias tempat berbisnis. Bagaimana dengan Anda? Boleh jadi Anda memilki rumah lebih dari satu. Dan rumah yang tidak Anda tinggali setiap bulan malah menguras kantong Anda karena mesti membayar biaya listrik dan biaya pemeliharaan lainnya. Malah kondisi rumah terus merosot karena faktor usia dan lain sebagainya. Konkretnya, beberapa rumah yang Anda miliki bukan saja tidak produktif, tetapi malah menjadi beban. Oleh karena itu, rumah tersebut mesti diproduktifkan, dalam arti memberikan penghasilan, misalnya disewakan kepada pihak lain.
Selain rumah, coba lihat lagi berbagai kekayaan yang Anda miliki. Cermati apakah aset tersebut sekadar sebagai aset konsumtif, atau alat menjaga gengsi belaka, atau memang tergolong produktif. Jika Anda memiliki perhiasan emas yang nilainya meningkat, perhiasan itu tergolong aset produktif yang bisa menambah kekayaan Anda. Begitu juga dengan lukisan yang nilainya bisa saja mengalami peningkatan. Ringkasnya, aset produktif adalah aset yang memiliki nilai investasi.
Inovasi keuangan juga bisa dilakukan dengan cara pemilihan investasi yang tepat. Pengertian investasi yang tepat di sini adalah bagaimana menyuruh uang Anda ”bekerja” untuk Anda. Jadi, uang menghasilkan uang. Bagaimana caranya? Lakukan investasi aktif.
Investasi aktif adalah secara reguler memilih dan mengevaluasi investasi yang telah dilakukan. Di pasar modal, misalnya, sebagian kalangan membeli saham, lalu terus memegangnya dalam kurun waktu yang lama, dengan harapan memperoleh dividen dan capital gain. Ini memang tidak salah. Tetapi, dalam kurun waktu tersebut, bisa saja harga saham yang dipegang mengalami kemerosotan harga. Kalangan yang memegang saham tersebut boleh jadi tidak peduli atau malah menjualnya karena khawatir harga saham akan semakin merosot.
Nah, seorang investor aktif tidak akan bersikap seperti itu. Ia malah akan membeli lagi saham dimaksud pada harga yang lebih rendah. Kenapa? Karena tujuan memegang saham dimaksud adalah untuk jangka panjang. Dan ketika harga saham merosot, dilakukan pembelian agar secara rata-rata biaya pembelian saham menjadi lebih murah. Contoh-contoh lain tentang investasi aktif telah banyak diulas dalam tulisan-tulisan terdahulu di kolom ini.
Yang terakhir adalah inovasi keuangan dalam pengelolaan biaya. Pernahkah Anda mendengar istilah ”must have” vs ”nice to have”? Coba terapkan itu dalam perilaku pengeluaran biaya Anda. Berapa banyak Anda menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang sekadar ”nice to have”? Boleh jadi, kalau ditotal seluruh pembelian Anda, terutama pengeluaran yang bersifat harian, akan lebih banyak yang tergolong ”nice to have”.
Jika Anda bisa memotong biaya ”nice to have” 50 persen saja, akan sangat banyak tabungan yang Anda peroleh dan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keuangan lain yang lebih produktif. Selamat mencoba.
SUmber: Tribun Kaltim/Kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
Laptop atau gadget apa pun semakin dibutuhkan untuk menunjang berbagai kegiatan. Mulai dari anak sekolah hingga para profesional, semua membutuhkan perangkat itu untuk mendukung pekerjaannya. Bahkan, ibu rumah tangga pun memerlukan laptop dengan berbagai model yang praktis dan bisa dibawa ke mana saja kala dibutuhkan.
Begitu pentingnya laptop dan data yang tersimpan di dalamnya sehingga kehadiran perangkat tersebut harus dibarengi dengan proteksi. Tak sekadar perlu mengamankan data agar tak mudah diakses orang lain, Anda juga perlu melindunginya dari pencurian dan virus yang semakin canggih.
1. Gunakan password
Pastikan pengaturan akun sudah dilengkapi dengan pengisian password atau kata kunci. Jadi, setiap kali membuka laptop, Anda akan diminta mengisi kata kunci untuk bisa mengakses data. Cara ini bisa menghindari pencurian data dari orang yang tidak berkepentingan. Setidaknya, hal tersebut meminimalkan risiko, meskipun semakin hari, peretas (hacker) semakin canggih saja.
2. Pakai perangkat lunak anti-pencurian
Dengan memasang perangkat lunak anti-pencurian, jikapun laptop hilang atau kecurian, Anda masih bisa melacaknya. Caranya, dengan melacak keberadaan laptop Anda melalui akses internet.
3. Amankan dengan kunci
Mengunci laptop dilakukan dengan kabel yang terhubung dengan kunci atau gembok. Kunci bisa dibuka dengan kombinasi angka rahasia sehingga hanya pemilik yang bisa mengakses data tersebut. Caranya, bungkus laptop dengan kabel ketika Anda akan meninggalkan ruangan atau meja Anda. Cara lainnya, kunci laptop ketika Anda tidak menggunakannya.
4. Aktifkan screensaver
Screensaver tak sekadar berfungsi sebagai aksesori. Aktifkan screensaver agar laptop otomatis log in kembali setelah tidak digunakan beberapa menit. Cara ini bisa mengamankan data dari kemungkinan dibaca atau dilihat orang lain saat Anda sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya.
5. Selalu simpan di tempat aman
Pastikan ruangan terkunci saat Anda meninggalkan laptop di dalamnya. Jika terburu-buru, maka lebih baik bawa laptop bersama Anda untuk menghindari berbagai risiko yang sangat mungkin terjadi.
6. Bersikaplah waspada
Kewaspadaan bukan berarti kepanikan berlebihan. Namun, pastikan Anda selalu sadar terhadap keberadaan laptop, termasuk saat sedang bepergian. Jika tidak, maka risikonya laptop bisa hilang sekejap.
7. Gunakan tas biasa
Menggunakan tas laptop dan menentengnya seperti mengiklankan gratis barang Anda. Boleh saja menggunakan tas laptop, tetapi pilih yang tak kentara. Pilih tas yang memungkinkan Anda membawa laptop di dalamnya (dengan tempat khusus), beserta semua barang bawaan setiap harinya. Dengan cara ini, laptop akan lebih aman karena Anda tak terlihat membawanya.
8. Pakai anti-virus dan selalu perbarui
Pilih antivirus paling canggih. Anda perlu mengikuti perkembangan teknologi seiring maraknya kejahatan dunia maya. Jangan lupa untuk rutin memperbarui antivirus di laptop Anda agar masih ampuh memblok virus yang masuk. Virus tak sekadar membuat laptop tak lagi berfungsi. Yang lebih berbahaya adalah jika ada data yang dicuri akibat virus yang menjangkiti laptop. Lebih baik antisipasi daripada data kemudian menyebar dan merugikan Anda, bukan?
Sumber: howtodothings/Tribun Kaltim
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
Saya suka membaca iklan di Kompas tentang pelatihan investasi Option, dan tertarik untuk mencari tahu dan mengembangkan uang di investasi jenis ini. Apakah jenis investasi ini menjanjikan dan memang menguntungkan seperti iklan-iklan yang saya baca? Saya ingin mendapatkan return yang besar dalam waktu tidak terlalu lama. Tapi saya juga ingin berinvestasi di tempat yang aman. Tolong sarannya. - Bernadette, Jakarta.
Sebelum menjawab, saya ingin bertanya dahulu. Apakah Anda sudah memiliki portofolio investasi, seperti reksa dana atau saham? Bila belum, saya sarankan silakan koleksi terlebih dulu instrumen investasi tersebut karena Option adalah jenis investasi turunan dari saham.
Sebenarnya, dapat saya katakan, bahwa Option bukanlah sebuah investasi karena bersifat diperdagangkan (trading) dalam jangka pendek. Lalu dalam setiap transaksi tersebut, ada pihak yang mendapatkan keuntungan dan juga mengalami kerugian. Option merupakan investasi derivatif.
Saya sendiri sebagai financial planner selalu menganjurkan klien untuk melakukan dan mengoleksi investasi reksa dana, saham, properti, dan logam mulia terlebih dulu sebelum mencoba investasi lainnya. Sebab, masih banyak jenis investasi yang bisa dijadikan kendaraan mencapai tujuan keuangan kita.
Menurut Robert T Kiyosaki dalam bukunya Conspiracy of The Rich, derivatif adalah "senjata kehancuran massal" dan salah satu alasan kita berada dalam krisis keuangan. Saran saya, jangan memasuki sebuah jenis investasi yang rumit dan kompleks untuk dipahami. Sebab, semakin rumit investasi maka makin mudah akan kehilangan uang di sana.
Kembali ke persoalan Anda, Kiyosaki menegaskan, "Ingat, salah satu tujuan industri keuangan adalah membuat orang bingung." Jadi, sebaiknya hindari investasi yang tidak Anda pahami.
"Pay Yourself First Concept"
Apakah selama ini Anda tidak mampu menabung dan berinvestasi demi masa depan yang cemerlang dan mandiri? Apakah gaji ternyata tak bersisa (tidak cukup) untuk memampukan Anda memiliki tabungan atau investasi? Bila jawabannya "ya", berarti Anda menjalankan konsep keuangan yang kuno dan keliru. Tidak perlu bersedih karena Anda tidak sendiri.
Mungkin selama ini konsep menabung Anda adalah di akhir bulan. Ketika ada uang sisa dari belanja kebutuhan diri dan bulanan baru Anda menabung. Namun, bila ternyata di akhir bulan uang tidak bersisa, malah defisit, maka Anda pun melewatkan menabung di bulan itu.
Cara tersebut tidak akan membuat kaya. Sekarang cobalah untuk mulai menggunakan konsep baru, pay yourself first at 20 percent. Maksudnya adalah menyisihkan terlebih dahulu bagi masa depan di muka sebesar 20 persen sebelum membelanjakan untuk kebutuhan lain dan keperluan biaya bulanan. Konsep baru: Income (pendapatan) - Saving (masa depan) = Expenses (kebutuhan hari ini)
Mengapa 20 persen?
Selama ini banyak yang menganjurkan bahwa cukup menabung atau menyisihkan sebesar 10 persen saja. Namun, menurut saya angka ini sangat tidak memadai. Angka ini berasal dari standar luar negeri yang angka inflasi mereka berkisar antara 3-5 persen per tahun. Dengan demikian, menabung atau berinvestasi sebesar 10 persen atau sama dengan 2 kali angka investasi, jadi sudah dianggap memadai. Sedangkan angka inflasi di Indonesia, sebesar 8-10 persen (padahal inflasi riil di pasar bisa saja lebih dari itu) sehingga saya anjurkan untuk memakai angka 20 persen untuk mengamankan dan memastikan masa depan Anda sendiri.
Mulailah dari 1 persen
Bila Anda sulit untuk menyisihkan langsung pada angka 20 persen maka mulailah menyisihkan dari angka 1 atau 2 persen pada bulan pertama, dan kemudian tambahkan angka yang sama pada bulan berikut dan seterusnya. Sehingga pada bulan ke-10 sampai ke-20 angka tersebut sudah tercapai.
Kalahkan diri Anda
Bila mampu mendisiplinkan diri dan mengalahkan keinginan-keinginan yang kurang produktif untuk melakukan konsep ini maka Anda akan sangat mudah mencapai berbagai tujuan-tujuan keuangan di masa depan. Memang sangat sulit dan mungkin paling sulit untuk mengalahkan diri sendiri. Namun percayalah, bila mampu mengalahkan diri sendiri maka dunia akan mudah Anda taklukkan.(Freddy Pieloor, CFP/Majalah Chic)
Sumber: TRIBUNKALTIM.co.id
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
Tak butuh gelar tinggi untuk sukses dalam mencari pekerjaan. Menggapai gol karier Anda hanya butuh strategi yang matang dan disiplin. Berikut 6 tips untuk membantu Anda mencari pekerjaan lebih cerdas, bukan lebih keras.
Jual nilai
Apa yang membuat Anda unik? Bagaimana kekuatan, kemampuan, dan prestasi Anda bisa mengurangi permasalahan yang dihadapi perusahaan yang Anda lamar tersebut? Tentukan "tawaran nilai unik" Anda dan buat hal tersebut menjadi rencana integral pada garis besar marketing personal Anda. Perhitungkan setiap dokumen (resume, biografi, kartu nama) atau pertemuan langsung (networking, atau wawancara) sebagai kesempatan untuk menyampaikan nilai dan mengemukakan kebutuhan strategis Anda.
Lebih bersemangat
Mencari pekerjaan bisa jadi sangat melelahkan jika Anda tak memiliki rencana untuk mengisi ulang tenaga Anda. Tetap termotivasi dan selalu siap akan memudahkan Anda membangun rencana praktis dan tetap menjalaninya. Aturlah jadwal harian Anda, lalu putuskan seberapa sering atau berapa jam dalam seminggu bisa Anda siapkan untuk mencari dan menyusun kembali dokumen-dokumen untuk menghitung kembali perkembangan Anda.
Mengaktifkan dan membangun jejaring
Jejaring yang kuat bisa memberikan info dan akses ke lowongan pekerjaan yang tak begitu terekspos ke pasaran. Riset menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen dari semua pekerjaan yang terpenuhi disebarkan lewat jejaring. Setiap orang yang Anda kenal adalah kesempatan untuk membangun jejaring Anda. Jangan lupa, anggota keluarga, teman sosial, atau rekan kerja adalah anggota potensial dalam jejaring Anda.
Riset pilihan Internet adalah tempat yang tepat untuk memulai riset Anda. Selain situs-situs khusus untuk karier, seperti
Kompaskarier.com, situs perusahaan yang Anda tuju pun bisa jadi sumber informasi berharga. Dari sana Anda bisa mempelajari mengenai produk-produk, jasa, siapa yang berwenang, dan banyak hal lainnya.
Mengkhususkan strategi pencarian kerja
Anda akan meningkatkan kemungkinan untuk sukses jika Anda berfokus pada pilihan khusus personal. Pilih dua atau tiga strategi yang sesuai dengan kepribadian dan gaya hidup Anda, lalu bangun pencarian profesi di sekitar wilayah tersebut. Jika Anda ingin bertemu dengan banyak orang baru, cobalah untuk mencari kerja sebagai relawan di sebuah organisasi atau melamar sebagai pemagang sementara di suatu organisasi. Jika Anda adalah tipe pemalu atau introvert, cobalah untuk menghubungi teman-teman lama melalui situs jejaring sosial atau asosiasi alumni. Saluran lain yang bisa Anda coba adalah dengan rajin melirik halaman lowongan pekerjaan di harian ibukota, grup jejaring, atau acara job fair.
Manfaatkan kreativitas Anda
"Jual" diri Anda dengan imajinasi. Lima tahun lalu, pelamar pekerjaan harus mencetak resume mereka di atas kertas berwarna untuk menarik perhatian personalia. Saat ini, perusahaan ingin mencari karyawan yang kualifikasinya mencukupi kebutuhan perusahaan dan tahu bagaimana mempresentasikan nilai mereka. Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan menciptakan resume video berisi portfolio Anda. dan lainnya. Apapun metode yang Anda pilih, lakukan pencarian lowongan dengan cara yang terorganisir, bertarget, dan kreatif. Sukses adalah hasil akhir dari kreativitas dan segala kerja keras yang dibangun di sekitarnya.
Sumber: TRIBUNKALTIM.co.id/Kompas.con
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()

Wanita adalah pelaku bisnis yang tangguh. Roda perekonomian mikro di Indonesia, sebanyak 60 persennya dikelola oleh wanita. Hal ini disampaikan oleh Dr Ir Irma Alamsyah Djaya Putera, M.Sc, Staf Ahli Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pada konferensi pers peluncuran situs khusus wanita berwirausaha dari Standard Chartered, beberapa waktu lalu di Jakarta. Karena itu, sudah saatnya kita mulai menganggap serius perkembangan wirausaha wanita Indonesia.
Namun sayangnya, perkembangan ini masih sering terhambat karena adanya kendala-kendala. Seandainya bisa menemukan jalan untuk melewati hambatan-hambatan ini, tak ayal perekonomian kita pun bisa lebih baik. Dr Ir Irma menjelaskan enam poin kendala bagi para wanita untuk mulai berwirausaha. Enam poin tersebut adalah:
1. Kondisi kodrat
Kondisi kodrat wanita untuk melakukan tugas-tugasnya sebagai wanita kadang menghambat mobilisasinya. Wanita memiliki kodrat yang sulit dielakkan. Misal, kondisi siklus menstruasi bulanan yang membuatnya sulit untuk bisa 30 hari beraktivitas, kondisi hamil, lalu menyusui, juga harus menjaga anak. Alhasil, mobilisasi wanita dibandingkan pria bisa dibilang terpaut jauh dan membuat wanita tidak bisa seaktif pria.
2. Kekurangan pengalaman berusaha
Tak banyak wanita yang berani memulai langkah karena alasan belum berpengalaman. Padahal, dengan ia berani mencoba dan tak takut gagal, ia akan memiliki pengetahuan lewat pengalaman itu. Contohnya, saat krisis moneter pada 1998, ketika banyak pria yang terkena pemecatan, kegigihan wanita untuk mencari nafkah lewat usaha makin terlihat. Makin banyak wanita yang berani membuka usaha kecil-kecilan untuk menghidupi keluarganya.
3. Malas berurusan dengan bank
Mulai dari perjalanan menuju bank, lalu berhadapan dan berurusan dengan administrasi saja sudah membuat para wanita enggan untuk mau memulai langkahnya. Belum lagi, ketika ia harus mengajukan pinjaman, ia harus memikirkan agunannya, yang umumnya, tak banyak pula ia miliki.
4. Peran ganda
Peran ganda yang ia harus lakukan di rumah, lalu sekaligus di tempat usahanya, belum lagi jika ia harus mengurus anggota keluarganya yang lain.
5. Kurang percaya diri
"Yang paling terutama mengapa wanita tidak percaya diri adalah karena kurangnya pengetahuan dan informasi bagi mereka untuk mulai berwirausaha," ujar Dr Irma. Ditambah lagi karena dari keluarga atau dari orang-orang di sekitarnya tidak mengajarkannya cara untuk berwirausaha, dalam hal ini, pengalaman mereka pun juga kurang. Tak heran, wanita sering kali kurang percaya diri.
6. Kurang peduli dengan "database"
Nah, ini pun salah satu kendala kesuksesan wanita untuk bisa sukses berwirausaha. Kadang, wanita cenderung melakukan dan menjalani usahanya saja, tapi tidak mencatat perjalanan, perkembangan, keuangan, persediaan, dan sebagainya. Hal ini pun akan menjadi kendala di depannya.
Nah, setelah mengetahui kendala-kendala ini, mungkinkah Anda menemukan jalan untuk menghadapinya dan berani melangkah untuk lebih sukses?(Sumber: Tribun Kaltim/kompas.com)
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
SEBUAH polling dilakukan oleh Gallup Poll terhadap karyawan-karyawan di Amerika, mendapati bahwa sebanyak
71 persen respondennya merasa tidak kerasan dengan pekerjaan/tempat kerjanya. Apa yang harus dilakukan? Tetap menjakani pekerjaan meski merasa tidak bahagia atau mencari pekerjaan baru dengan harapan akan mendapatkan tempat yang bisa lebih membahagiakan?
Pilihan pindah kerja ke tempat yang lain ada di tangan Anda. Berikut adalah 10 tanda untuk Anda perhatikan, jika salah satu atau beberapa tanda ini Anda rasakan, maka sudah saatnya Anda memikirkan untuk pindah kerja.
1. Rekan kerja yang mengesalkan
Rekan kerja bisa jadi sangat menyenangkan, tapi ada juga yang sangat menyebalkan. Bukan hal yang mengesalkan ketika Anda mendapatkan rekan kerja yang menyenangkan. Namun, bagaimana caranya bisa menyelesaikan pekerjaan ketika rekan kerja Anda kerjanya bikin kesal?
Entah itu membuat Anda kesal dengan caranya yang suka menyindir, datang terlambat, pulang cepat, bicara keras di telepon, mengecilkan Anda di muka umum, atau senang mengganggu Anda di jam kerja dengan gosip-gosipnya? Jika memang rekan kerja yang seperti itu ada lebih dari 1 atau lebih dari yang bisa Anda hadapi, maka sudah saatnya Anda mencari tempat kerja baru, entah minta relokasi divisi atau tempat duduk, atau pindah perusahaan.
2. Tak semangat berangkat kerja
Setiap Minggu malam, Anda pun bersungut-sungut memikirkan keesokan hari yang berarti Anda harus berangkat ke kantor lagi. Ketika Anda menghabiskan lebih dari 40 jam dalam seminggu untuk bekerja, rasa tak malas berangkat bekerja adalah hal terakhir yang seharusnya ada di pikiran Anda. Jika memang itu yang terjadi, maka sudah saatnya Anda memikirkan untuk mengganti pekerjaan.
3. Teramat jenuh
Kebanyakan orang senang untuk menyukai tantangan di pekerjaannya. Jika pekerjaan Anda mulai terasa mudah atau berulang, maka ini adalah tanda bahwa Anda butuh tanggung jawab atau perubahan peran dalam pekerjaan. Tapi jangan salah artikan kebosanan dengan kemalasan. Ada perbedaan besar antara menonton YouTube seharian sementara pekerjaan menumpuk di sebelah Anda dengan menonton YouTube seharian karena pekerjaan sudah Anda selesaikan semua sejak pagi.
4. Perusahaan dalam masalah
Keadaan ekonomi dunia saat ini masih belum stabil benar. Jika Anda merasa perusahaan memiliki masalah dengan keuangan atau kesulitan untuk bisa tetap berdiri, jangan lalu ambil langkah gegabah. Tanyakan kepada atasan Anda keadaan yang sebenarnya, baru pikirkan langkah berikutnya. Jika memang menuju titik nol, ada baiknya Anda memikirkan untuk pindah perusahaan.
5. Tak merasa kerasan
Amat penting bagi seseorang untuk bisa merasa kerasan. Jika kompetisi yang ada di perusahaan terasa tidak adil, kolega Anda mencuri ide, ada konflik etika dan nilai antara Anda dengan perusahaan, atau mungkin tidak sepaham dengan kebijakan manajemen, mungkin sudah saatnya Anda mencari perusahaan yang bisa memberikan hal-hal krusial tersebut bagi Anda.
6. Bos yang tak menyenangkan
Percaya atau tidak, hubungan Anda dengan atasan memiliki dampak yang besar terhadap kehidupan profesional Anda, secara kebahagiaan dan sukses. Lagipula, bahkan pekerjaan terbaik pun akan menjadi sangat tidak menyenangkan ketika Anda berhadapan dengan bos yang menyebalkan. Jika Anda tidak memiliki cara pandang atau visi yang sama atau atasan Anda tidak bisa dipercaya atau tidak suka melihat Anda maju, maka sudah saatnya Anda mencari tempat dengan atasan baru.
7. Karier jalan di tempat
Anda sudah melakukan pekerjaan yang sama selama beberapa tahun belakangan ini, Anda sudah siap mendapatkan tanggung jawab baru. Atau Anda sudah kehilangan gairah untuk melakukan apa yang biasanya Anda sukai. Atau Anda bekerja di perusahaan yang tidak bisa memberikan pekerjaan berbeda dengan yang sedang emban.
Cobalah untuk membicarakan tentang kemungkinan peran atau tanggung jawab baru yang bisa Anda lakukan, atau mencoba tugas yang berbeda. Ekspresikan pada atasan Anda mengenai keinginan untuk membangun kemampuan dan cara untuk mencapai gol Anda. jika tak ada alternatif lain yang bisa Anda coba, mungkin sudah saatnya Anda mencoba mencari tempat baru.
8. Anda tidak dihargai
Penghargaan atas prestasi memiliki peran cukup penting. Perasaan bahwa Anda sudah memberikan kontribusi yang baik untuk perusahaan akan menjadi hal yang baik untuk Anda. Jika perusahaan Anda tidak melakukan hal apa pun untuk menghargai hasil karya Anda, maka Anda akan merasa tersia-sia atau tak dianggap.
9. Lingkungan kerja tak menyenangkan
Tempat kerja yang memiliki energi negatif atau moral rendah akan menguras setiap karyawannya, bahkan yang pada awalnya memiliki energi positif sekali pun. Jika Anda selalu merasa stres, depresi, atau sifat periang Anda berubah menjadi negatif, mungkin sudah saatnya Anda mengeksplor pilihan pekerjaan lain di luar sana.
10. Kelelahan
Terlalu banyak proyek yang ditangani sama dengan jadwal kerja yang berlebihan. Jika hal ini hanya terjadi sesekali saja, mungkin bisa membantu Anda untuk memacu diri, dan bersifat sebagai tantangan baru untuk Anda. Tapi proyek demi proyek seakan tak ada ujungnya dan terus berulang, pulang tengah malam, kehidupan sosial Anda pun hilang begitu saja, maka sudah saatnya Anda membantu diri sendiri dengan mencari pekerjaan baru.
Sumber: Tribun Kaltim/theworkbuzz/kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
Boleh jadi usia Anda saat ini masih dalam kategori produktif. Anda pun masih sanggup membiayai kebutuhan keluarga dan bisa memanjakan diri sendiri. Namun bagaimana jika usia sudah beranjak menua, 20 atau 30 tahun ke depan, saat secara fisik Anda tak lagi produktif? Apakah tabungan di rekening bank mampu mengejar nilai barang yang pastinya akan terus naik setiap tahunnya?
Hitung kembali saldo Anda. Jika dikalkulasikan dengan pertumbuhan inflasi 10 per tahunnya, dan bunga tabungan yang hanya 5 persen per tahun, Anda akan menemui sejauh mana tabungan konvensional di bank mempunyai daya beli kuat mengimbangi inflasi ke depannya.
Syafriady Hutagalung, manajer senior agen Prudential, mengatakan kepada Kompas Female masih ada anggapan rancu tentang masa pensiun dan dana pensiun. "Istilah pensiun berlaku terhadap seseorang yang sudah produktif pada usia tertentu, 50 - 60 tahun. Namun tak sedikit orang pada usia ini masih bekerja dan mencari nafkah dikarenakan mereka tidak menyiapkan dana pensiun sejak masih produktif," jelas pria yang kerap dipanggil Adhie ini.
Menurut Adhie, masa produktivitas bisa saja berkurang, namun biaya hidup terus meningkat. Anda juga boleh pensiun, tetapi biaya hidup tidak akan pernah pensiun. Pertanyaan penting yang harus segera dijawab adalah bagaimana persiapan Anda sebelum pensiun?
Ada beberapa pilihan untuk mempersiapkan dana pensiun Anda. Berbisnis, menabung konvensional di bank, atau investasi. Masing-masing memiliki nilai lebih, di antaranya seperti dijelaskan oleh Adhie:
1. Berbisnis atau membuka usaha sampingan
Membuka usaha sampingan bisa sangat menguntungkan, karena biasanya dengan membuka usaha, bisa didapat hasil yang besar dalam tempo yang lebih cepat. Tetapi Anda harus siap dengan segala konsekuensi bisnis.
Setidaknya pebisnis harus siap dengan sejumlah hal seperti:
Pertumbuhan permintaan dan penawaran (supply-demand).
Produksi.
Sikap mental seperti kesabaran, ketekunan, dan komitmen yang akan sangat menentukan kesuksesan bisnis.
Jika berbisnis menjadi pilihan, memang pertumbuhan uang akan sangat progresif. Apalagi jika Anda memilih usaha yang tak memerlukan modal besar seperti jasa konsultan. Berapa nilai dana yang akan terkumpul dari cara ini akan bergantung penuh pada usaha Anda menjalankan bisnis.
Jumlahnya bisa sangat besar, yang artinya simpanan dana pensiun Anda di masa mendatang pun bernilai tinggi sejalan dengan aset dan produktivitas bisnis yang terus berkembang.
2. Menabung secara rutin
Setiap orang pastinya memiliki rekening tabungan konvensional di bank pilihan. Bagi karyawan, uang gaji disisihkan sekian persen untuk ditabung. Cara ini sah saja jika lebih memungkinkan untuk Anda. Namun harus siap dengan resikonya, yakni:
Daya beli menurun di masa mendatang, artinya nilai dana yang Anda simpan di bank akan tak sebanding nilai kebutuhan di masa mendatang.
Pajak. Jika Anda menabung seratus juta di bank, pemerintah akan memotong pajak sebesar 20%. Artinya, nilai dana tabungan akan menurun.
Inflasi dengan pertumbuhan rata-rata 10 persen per tahun. Artinya, 20 tahun mendatang nilai dana Anda tidak mampu mengimbangi tingginya harga kebutuhan dasar. Karena bunga hanya berada dalam kisaran 5 persen, tingginya inflasi masih belum menutupi kebutuhan.
Sikap tidak disiplin. Banyak keluarga menetapkan berbagai pos pengeluaran terlebih dahulu, baru kemudian ”sisanya” ditabung. Cara ini membuat tabungan tidak optimal dan cenderung akan dikorbankan apabila ada pengeluaran tambahan di luar yang rutin.
3. Investasi
Instrumen investasi bisa beragam. Pilih yang paling tepat untuk Anda, apakah saham, obligasi, reksadana, asuransi, atau lainnya yang bersifat investasi jangka panjang (long term investment).
Bicara asuransi, menurut Adhie, produk tabungan berjangka atau rencana dewasa ini disertai fitur asuransi. Dengan demikian, target dana atau rencana yang diinginkan dapat tetap tercapai meskipun terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Besaran nilai investasi pada tahap ini kembali
kepada tujuan Anda, seberapa besar nilai dana pensiun yang ingin Anda kumpulkan dalam jangka waktu tertentu.
"Pada intinya, pilih instrumen investasi yang bisa menumbuhkan dana di atas bunga deposito dengan merujuk kepada nilai masa depan atau future value," tukas Adhie. Dengan perencanaan tepat, di saat waktu pensiun tiba (bisa jadi pensiun dini), simpanan Anda sudah mampu membiayai hidup Anda sepenuhnya di masa mendatang. Jadi, siap memulainya sekarang?
Sumber: Tribun Kaltim/kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
Graduate Traineeship ProgramKraft Foods IndonesiaWho are we?
Kraft Foods is the world’s second largest global food company headquartered in Northfield Illinois. For more than 100 years, Kraft has been dedicated to help people around the world eat and live better. In more than 150 countries, consumers reach for their favorite Kraft brands which mostly are leaders in the markets such as Kraft, Oreo, Ritz and Toblerone.
What is Graduate Traineeship?
Our Graduate Traineeship Program focuses on recruiting the best early career talent to grow with our business, developing leaders for our future, and continuing to strengthen Kraft as the Employer of Choice. The trainees will be assigned in various departments within commercial office to give the trainees opportunities to build network with each other, learn about departments’ functions, gain hard skills, and develop personally while adding value to the organization.
Who are we looking for?- S1/S2 degree from any major, with min GPA 3.00.
- Fluency in English
- Has leadership potential and team-working abilities
- Open-minded and eager to gain hands-on experiences in Commercial unit
- Geographically mobile
- Willing to be assigned at Commercial Office (Jakarta) as well as at our plant in Cikarang, Karawang and Bandung.
This position is offered to students graduated (with having experience less than 1 year) and those who will be graduated on February-March 2010.
What are the conditions?
Duration: 1.5 year
Traineeship Commence on: [May 1, 2010]
Depending on business needs and trainee's performance, Kraft may request trainees to continue to work for Kraft upon successful completion of the traineeship.
How to apply?
Please submit your CV, transcripts and recent photograph to:
Student Advisory Center (SAC) ITS
Closing Date of Application: 18 January 2010
Qualified candidates will be invited for company presentation & ENGLISH SHORT TEST (end of January-February 2010, will be confirmed to the shortlisted candidates)
Sumber:http://sac.its.ac.id/lowongan/index.php?id_detil=677
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
ALANGKAH baiknya dalam memulai tahun baru, kita melakukan resolusi atau penataan kembali terhadap kehidupan secara menyeluruh. Kita semua berharap, di tahun baru ini ada lebih banyak kebaikan dan sukses yang bisa kita raih.
Kita ingin meninggalkan hal-hal buruk, membuang sifat-sifat negatif yang terbukti menghambat kehidupan selama ini. Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mensyukuri apa pun yang telah kita alami selama satu tahun yang lewat.
Bagaimanapun pengalaman adalah guru yang terbaik. Tanpa kesalahan, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, sulit bagi kita untuk belajar memperbaiki diri, menyadari ada hal-hal yang belum selesai atau masih menjadi masalah.
Selain itu, kita dapat lebih mengenali diri, apa kekurangan yang perlu diperbaiki dan apa kekuatan diri kita. Misalnya, ternyata bisnis kurang maju, gagal diet, belum dapat membina hubungan efektif dengan keluarga atau bawahan, masih sulit mengendalikan emosi atau masih boros, m au menang sendiri, kurang peduli pada tetangga atau pada orangtua.
Hambatan meraih sukses
Menyimak ucapan Skip Ross, motivator yang pernah memberikan ceramah di Jakarta, upaya meraih sukses terhambat oleh aspek-aspek yang psikologis sifatnya. Beberapa di antaranya adalah:
1. Tidak fokus.
Bila kita belum tahu mau melakukan apa dan ke mana tujuan kita, maka kita akan mudah bimbang. Jika kita tidak konsisten menjalankan sesuatu, kurang fokus pada apa yang kita tuju, maka kita akan mudah kehilangan arah. Kita juga sering terbiasa mengurusi hal-hal kecil sehingga mengurangi perhatian pada hal yang betul-betul penting. Jika kita tak punya prioritas dalam melakukan sesuatu, kita akan menjadi bingung.
2. Kekurangan harga diri.
Ini berhubungan dengan citra diri yang kurang baik, merasa diri kurang berharga untuk meraih sukses, merasa diri kurang punya bakat, kurang mampu dan tidak layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
3. Kurang keyakinan.
Akan sangat menghambat kinerja kita bila kita kurang yakin pada kemampuan dan kekuatan diri untuk meraih sukses. Juga bila kita kurang yakin pada hal-hal yang tersedia di lingkungan, apakah pada sistem dan aturan yang ada, ataupun tidak percaya pada orang-orang yang berada di sekitar kita. Kita jadi cenderung berpikiran yang negatif saja tentang berbagai hal.
4. Kurang pengetahuan dan keterampilan.
Acap kali kita merasa sudah paham dan tak perlu belajar lagi dalam menghadapi kegagalan. Padahal sikap kurang terbuka pada hal baru dan sikap mudah puas dengan apa yang telah kita miliki bukanlah hal yang mendukung perbaikan dan pemberdayaan diri. Khususnya keterampilan komunikasi interpersonal sering kurang menjadi perhatian untuk dilatihkan.
5. Energi yang rendah.
Ini berhubungan dengan kurangnya semangat atau rasa cepat lelah dalam menghadapi sesuatu. Bisa karena secara fisik kurang sehat, bisa pula karena me mang tak ada cukup semangat dan sikap cepat menyerah dalam mengatasi kesulitan.
6. Kekurangan dukungan.
Kita tak bisa selalu menangani berbagai hal sendirian. Tidak salah bila suatu waktu meminta bantuan dan dukungan pada orang yang kita anggap bisa menolong menghadapi masa-masa sulit. Banyak contoh mereka yang dalam kesusahan dan ketidakberdayaan, tidak memperoleh dukungan dari lingkungan terdekat, malah melakukan tindakan yang lebih negatif.
Langkah-langkah
Jika kita coba meramu bersama agar kita dapat menjadi pribadi atau kelompok yang lebih baik, produktif, dan sukses, setujukah Anda dengan langkah berikut ini?
1. Memiliki cita-cita atau mimpi serta tujuan hidup.
Cita-cita bisa setinggi langit, tapi tujuan hidup perlu lebih realistis. Tujuan hidup tak langsung bisa ditemukan begitu saja. Diperlukan perenungan diri dalam waktu yang tidak singkat. Tapi tujuan hidup ini penting sebagai panduan yang mengarahkan langkah kita selanjutnya.
2. Bekerja keras.
Cita-cita maupun tujuan hidup harus ditindak lanjuti dengan kerja nyata, kalau tidak mimpi tersebut akan pudar dan menghilang.
3. Menghadapi berbagai tantangan.
Memperlakukan berbagai kesulitan sebagai sesuatu yang menantang, bukan mengancam. Ini semua berkaitan dengan persepsi. Kita perlu mengubah pandangan menjadi lebih optimistis. Kita harus mempunyai kebanggaan dan kebermaknaan terhadap hal-hal yang kita miliki dan akan kita capai.
4. Bertahan.
Tidak cepat menyerah atau berhenti mencoba. Kita berupaya meyakini bahwa semua kesulitan, seberapa pahit dan sulitnya, pasti ada penyelesaiannya.
5. Meningkatkan energi.
Untuk mencapai stamina dan energi maksimal, kita perlu merawat diri agar sehat secara fisik dan mental. Ini dapat dilakukan dengan makan cukup dan benar serta berolahraga secara rutin.
6. Mengembangkan prinsip hidup yang bermo ral dan etis.
Termasuk di sini prinsip menghargai dan toleran pada orang lain yang berbeda dengan diri kita, peduli pada lingkungan dan kesulitan orang lain, meyakini hukum "makin banyak memberi kita akan makin banyak menerima", serta tidak berpamrih dalam hubungan dengan siapa pun.
7. Menikmati dan menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan.
Kita perlu terus latihan memanfaatkan waktu yang terbatas ini sebaik mungkin. Sukses hidup berarti seimbang dalam menjalani berbagai aspek kehidupan, berarti bisa memadukan aktivitas pribadi, pekerjaan, kesehatan, keluarga, sosial, dan spiritual. (AGUSTINE DWIPUTRI, Psikolog)
Sumber: Tribun Kaltim/
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()

Hitungan jam Anda akan memasuki Tahun Baru. Banyak orang membuat resolusi (semacam tekad pada diri sendiri untuk meraih atau menyelesaikan sesuatu) begitu memasuk Tahun Baru.
Nah, menurut para psikolog, kunci untuk meraih resolusi Tahun Baru bisa dengan memecah tujuan utama Anda dalam serangkaian langkah sederhana dan tidak berlarut-larut pada konsekuensi bila tujuan tidak tercapai. Penelitian Profesor Richard Wiseman dari Universitas Hertfordshire, Inggris, mengungkapkan, kurang dari seperempat orang Inggris bisa mencapai resolusi Tahun Baru mereka pada 2010.
Hal itu, kata dia, karena mereka mengambil jalan yang salah. Dia mempelajari 700 relawan yang membuat serangkaian resolusi yang berbeda, termasuk berhenti merokok, kehilangan berat badan, memulai hubungan, atau mendapatkan kualifikasi yang baru.
Berdasarkan temuan Wiseman, sebagaimana dilansir Telegraph, Selasa, hanya 22 persen partisipan yang berhasil mencapai tujuan mereka atau mendeskripsikan kemajuan mereka dengan "sangat sukses". Mengapa begitu banyak yang gagal? Kata Wiseman, karena mereka mengambil pendekatan yang salah dan menjadi kacau oleh buku-buku tolong-diri-sendiri (self-help books) yang mereka baca.
Ia membandingkan teknik mereka yang sukses mencapai resolusinya dengan mereka yang gagal. Kemudian, dia membuat daftar tips untuk tetap on track ketika seseorang ingin membuat perubahan dalam hidup. Menurut dia, orang-orang yang gagal cenderung larut dalam "hal-hal buruk" yang akan terjadi sekiranya mereka tidak mencapai tujuan. Mereka biasanya membuang kesempatan di sekitar mereka, mengadopsi tokoh idola, berfantasi akan kesuksesan, dan bergantung pada kekuasaan.
"Banyak ide-ide mereka sering kali direkomendasikan oleh para ahli tolong-diri-sendiri tetapi hasil penelitian kami menyatakan ide-ide tersebut tidak berhasil," kata Wiseman. "Karena nasihat-nasihat semacam ini sudah tersebar luas, maka jutaan orang akan gagal mencapai tujuan mereka".
Para partisipan yang sukses sebaliknya merinci tujuan mereka dalam serangkaian langkah sederhana dan memberi hadiah pada diri mereka setiap kali sebuah tahap berhasil dilalui. Mereka juga bercerita kepada teman-teman mereka mengenai apa yang hendak mereka coba raih, mengingatkan diri mereka sendiri akan keuntungan yang didapat dengan pencapaian tujuan dan membuat grafik pencapaian. "Banyak teknik sukses ini yang terkait dengan pembuatan rencana dan membantu diri Anda tetap menjalankannya," kata Wiseman. "Mereka yang menjalankan kelima teknik tersebut 20 persen akan lebih berhasil ketimbang yang lain".
"Gagal meraih ambisi Anda secara psikologis dapat berakibat buruk karena hal tersebut dapat merampas seorang dari kontrol dirinya. Saya berharap penelitian ini dapat membantu orang mengubah hidup mereka di tahun 2010."
Inilah 10 tips sukses yang ditawarkan Wiseman jika Anda ingin membuat resolusi Tahun Baru:
Buatlah hanya satu resolusi; peluang sukses Anda lebih besar ketika Anda menyalurkan energi untuk mengubah hanya salah satu aspek dari perilaku Anda.
Jangan menunggu hingga malam Tahun Baru untuk memikirkan resolusi Anda. Luangkan waktu beberapa hari sebelumnya untuk merefleksikan apa yang sesungguhnya ingin Anda raih.
Singkirkan resolusi sebelumnya; memutuskan untuk menengok ke belakang dan melihat resolusi terdahulu hanya akan membuat Anda frustrasi dan kecewa.
Jangan ikut arus dan membuat resolusi yang biasa-biasa saja. Pikirkan tentang apa yang sesungguhnya Anda inginkan dalam hidup.
Pecahkan tujuan utama Anda dalam serangkaian langkah pencapaian, fokus pada penciptaan langkah-langkah tujuan yang konkret, terukur, dan terjadwal.
Sampaikan ke teman-teman dan keluarga tentang tujuan Anda, itu akan meningkatkan rasa takut akan gagal dan menarik dukungan.
Secara reguler ingatkan diri akan keuntungan yang dapat diraih dari pencapaian tujuan-tujuan Anda dengan membuat daftar tentang bagaimana kehidupan akan lebih baik begitu tujuan besar Anda tercapai.
Berikan diri Anda hadiah kecil kapan pun Anda meraih tujuan-tujuan turunan Anda. Itu akan motivasi dan membuat Anda terus berupaya untuk maju.
Buatlah rencana dan kemajuan Anda menjadi konkret dengan menyimpan jurnal yang ditulis tangan, dan melengkapi kertas kerja di komputer, atau menutup papan pengingat dengan grafik maupun gambar.
Terimalah bahwa sewaktu-waktu kebiasaan lama akan muncul. Sikapi setiap kegagalan sebagai kemunduran sementara ketimbang menjadi alasan untuk menyerah dan pasrah.
Sumber: Kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
BANYAK alasan untuk mulai bekerja dari rumah. Anda bisa bertemu dengan anak lebih sering, tak terlalu menguras energi dan sumber daya, juga lebih leluasa dalam mengatur waktu.
Saat ini semakin banyak wanita yang memilih untuk bekerja dari rumahnya untuk menambah pemasukan atau sekadar menyalurkan hobi dan keterampilan yang menghasilkan. Agar waktu Anda yang memilih untuk bekerja dari rumah lebih maksimal, berikut tips yang bisa Anda ikuti;
1. Meyakinkan diri
Sebagian orang menganggap bahwa bekerja dari rumah akan menghemat banyak pengeluaran dan lebih ringan kerjanya (tak ada atasan). Namun, nyatanya, tak semua orang memahami bahwa bekerja dari rumah memiliki tanggung jawab yang besar, dan tak semua orang sanggup untuk bekerja dengan tanggung jawab yang besar.
Tanggung jawab ketika memutuskan untuk bekerja dari rumah tidak lebih ringan dari kerja kantoran, bahkan dalam beberapa hal, lebih berat. Ketika bekerja dari rumah, Anda harus membagi pikiran ke rumah, apalagi jika Anda tidak memiliki pembantu rumah tangga.
Menurut Tory Johnson, pengarang buku Fired to Hired, sebelum memutuskan untuk bekerja dari rumah, Anda harus memperhatikan kebiasaan Anda sehari-hari. Jika Anda terbiasa dengan suasana kerja dan atmosfer kantor yang lamban, biasa bercengkrama di ruang pantry kantor, atau dengan segera bisa pergi ke gelaran diskon di mal begitu melihat iklannya karena baru dapat gaji, kemungkinan terbesar, Anda tak cocok bekerja dari rumah.
Jika Anda saat ini masih bekerja di kantor dan berpikiran untuk bekerja dari rumah sebagai freelance atau apa pun, pastikan Anda sudah memiliki pelanggan dan sudah ada pesanan cukup banyak sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja. Jangan lupa untuk berdiskusi dengan pasangan sebelum memutuskan rencana ini, agar Anda tetap memiliki dukungan ketika mengalami masa-masa sulit.
2. Suasana kantor nyaman
Salah satu faktor krusial dalam mencipta suasana kerja yang nyaman untuk bekerja adalah ruang kerja yang ergonomis dan tertata. Begitu pun dengan posisi saat duduk di depan komputer, seharusnya;
Sudut siku Anda seharusnya membentuk 90-110 derajat agar tangan dan lengan Anda bisa dengan beristirahat dan bekerja dengan nyaman saat mengetik, sementara lengan atas Anda sejajar dengan sisi perut.
Perhatikan letak telapak kaki, pastikan letaknya mendatar di lantai.
Posisikan tubuh dan tulang belakang Anda lurus, sehingga arah pandangan lurus ke depan, tanpa membuat leher dan bahu kaku.
Usahakan untuk memberi jarak tidak lebih dari sekepalan tangan di antara tulang belakang bagian bawah dengan sandaran kursi.
Pergelangan tangan sebaiknya dalam bentuk lurus ketika menggunakan keyboard atau mouse.
3. Jadwal per hari
Alan Hedge, PhD, direktur Human Factors and Ergonomics Laboratory di Cornell University mengatakan, bahwa rutinitas yang terstruktur, bisa membantu Anda untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru. Umumnya, lama konsentrasi seseorang hanya bertahan selama 20 menit. Hedge merekomendasikan aturan 20-20-20.Setelah bekerja fokus dan konsentrasi selama 20 menit, beristirahatlah selama 20 detik, dengan beranjak dari kursi sejauh 20 kaki. Ini penting dilakukan agar pikiran kembali segar dan membagi perhatian. Jika Anda terbiasa begadang, Anda bisa mengatur tubuh Anda agar tetap segar dengan keluar dari ruang kerja dan bergerak, setidaknya selama 15-20 menit beristirahat.
Menurut para ahli, sinar matahari membantu menstimulasi kelenjar pineal yang memproduksi melatonin (hormon yang membantu meregulasi siklus terjaga-tertidur seseorang.
4. Mengurangi "pemakan waktu"
Perhatikan seberapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk bekerja, dan bagaimana Anda menjalani jam tersebut. Edward Hallowell, penulis CrazyBusy, menemukan bahwa, orang-orang yang bekerja sendirian di kantor menghabiskan banyak waktunya menelepon dan berselancar di internet.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nielsen pada bulan Juni lalu, pengunjung harian rata-rata pengguna situs jejaring sosial Facebook menghabiskan secara total 4 jam dan 33 menit dalam sehari untuk beraktivitas di situs ini. Supaya Anda bisa menghindar dari kecenderungan ini, jangan mengecek akun e-mail Anda di awal hari, karena bisa mengalihkan perhatian Anda.
Hanya balas telepon dan surat-surat elektronik saja saat waktu kerja. Hindari menelepon orang-orang yang tak berurusan dengan pekerjaan di luar jam kerja. Kalau memungkinkan dan Anda bisa bekerja secara offline, matikan saja browser internet Anda selama beberapa jam.
Hindari pula janjian untuk makan siang bersama teman, karena biasanya akan memakan waktu lebih lama dari yang Anda perkirakan. Minimalisasikan kegiatan bersosialisasi di luar kantor atau rumah, dan fokuskan jadwal kegiatan untuk mengerjakan pekerjaan rumahan seminggu sekali.
5. Tetap terhubung
Keharusan menjadi orang yang disiplin dan produktif tak berarti Anda harus menutup diri dari pergaulan. Anda tak bisa meraih performa tertinggi jika terus-terusan terisolasi. Setiap 4 jam sekali, cobalah untuk bertemu orang lain, entah itu dengan bertemu tetangga, atau berkunjung ke kedai kopi dekat rumah.
Jika tak memungkinkan, cobalah untuk berbincang dengan teman menggunakan media apa pun dalam jangka waktu yang cukup. Namun jika memungkinkan, berbincanglah dengan orang yang berprofesi serupa dengan Anda.
Sumber: Tribun Kaltim/kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()

Minum teh di tengah-tengah kesibukan bisa membantu kurangi stres yang melanda.
STRES memang tak mungkin dihindari. Menjelang akhir tahun, pekerjaan makin menumpuk, si bos menuntut banyak, keluarga minta liburan, dan masih banyak lagi tuntutan yang membuat Anda dipenuhi pikiran. Apa yang bisa dilakukan untuk meredakan gejolak stres di dalam kepala Anda? Berikut adalah 6 hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya.
1. Teh hitam
Sebanyak 75 relawan yang ikut dalam sebuah studi yang dilakukan oleh University College di London, diminta meminum teh hitam sebelum melakukan dua tugas yang membuat mereka stres. Ternyata, hormon stres (kortisol) mereka turun sekitar 47 persen ketimbang relawan yang tidak meminum teh sebelumnya.
2. Katakan!
Bukan tanpa alasan orangtua kita mengajarkan untuk tidak bicara kasar, termasuk mengumpat. Memang tidak sopan untuk melontarkan kata-kata umpatan. Namun, pada kenyataannya, menurut sebuah penelitian yang dicantumkan dalam Leadership & Organization Development Journal, mengumpat bisa mengurangi tingkat stres seseorang. Tidak disarankan untuk mengumpat di depan orang lain atau di tengah-tengah acara yang sedang berlangsung. Namun, sedikit mengumpat di ruangan yang sangat sepi dimana Anda sendirian (dan tidak berlebihan) ditengarai bisa membantu melegakan sedikit tekanan dari otak Anda.
3. Beri tekanan tambahan
Akupresur sudah diketahui khasiatnya sejak zaman dulu. Tekanan di titik-titik utama dan sentral merupakan pereda ketegangan yang cepat dan efektif. Bahkan, menurut Hong Kong Polytechnic University, teknik akupresur mampu mengurangi stres hingga 39 persen. Untuk membantu mengurangi stres, Anda bisa menekan (memijat) daerah daging yang letaknya di antara ibu jari dan telunjuk masing-masing tangan Anda selama 20-30 detik.
4. Manjakan diri
Tekanan dalam darah yang meninggi terkadang bisa membuat seseorang merasa stres. Untuk menenangkan peredaran darah dan memberi kemudahan agar darah mengalir, disarankan untuk meminum cokelat panas. Cokelat mengandung flavonoid, yang mampu melebarkan saluran darah dalam tubuh. Minumlah cokelat yang pekat atau bubuk kakao, yang memiliki kandungan penghilang stres lebih banyak ketimbang susu cokelat. Usahakan hanya meminumnya satu sajian saja.
5. Tertawalah
Sudah banyak yang mengatakan bahwa tawa lepas bisa membantu menyehatkan tubuh. Dilaporkan oleh Loma Linda University di California bahwa antisipasi untuk menunggu tawa saja sudah bisa menurunkan hormon-hormon stres, seperti dopac, kortisol, dan epinephrine. Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan mencari video-video lucu di internet.
6. Makin banyak lemak, makin baik
Menurut penelitian di University of Pittsburgh, mereka yang memiliki kandungan asam lemak omega-3 EPA dan DHA tinggi memiliki tingkat kebahagiaan lebih, berpikir lebih tenang, dan bisa lebih mudah diajak kerjasama. Tingkatkan mood Anda dengan menambah makanan sumber omega-3 lebih banyak, seperti salmon, herring, dan sardin dalam menu harian Anda. Atau tambahkan suplemen harian, sekitar 400 mg EPA dan DHA yang banyak terkandung dalam minyak ikan.
7. Relaksasi
Ada beragam tipe dan teknik relaksasi. Anda bisa mempelajari teknik relaksasi tersebut dari praktisi kesehatan, termasuk praktisi pengobatan alternatif, dokter, dan psikoterapis. Jika Anda belum memiliki kesempatan untuk bertemu mereka, Anda bisa mempelajarinya secara pribadi.
Sumber: Tribun Kaltim/kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()
KARTU kredit memang bisa memudahkan aktivitas kita, tetapi bila tidak digunakan secara bijaksana juga akan membuat kita terjerat masalah besar. Pada dasarnya, asal Anda tidak melakukan ke-4 hal berikut, Anda akan terbebas dari godaan membelanjakan terlalu banyak dan berbagai biaya yang memberatkan.
1.
Hanya membayar minimum payment. Kelihatannya fasilitas ini memang mempermudah Anda membayar hutang sesuai kemampuan, namun efek sampingnya (yang kurang menyenangkan, dan justru menjadi tujuan bank penerbit kartu kredit) adalah memperlama hutang Anda. Bunga pun makin besar, sehingga meningkatkan jumlah hutang Anda secara keseluruhan.
2. Membawa terlalu banyak kartu kredit. Banyaknya pilihan kartu yang bisa digunakan membuat Anda mudah terjerat hutang, karena akan lebih sulit melacak pembelanjaan Anda (apalagi jika Anda tak pernah mencatat pengeluaran Anda). Memiliki banyak kartu kredit memang tidak selalu buruk; yang menjadi masalah adalah jika menyalahgunakannya. Jadi, batasi kemampuan Anda hanya dengan membawa dua kartu kredit yang bisa dikelola dengan hati-hati.
3. Terlambat membayar. Anda tidak hanya akan dikenakan denda karena terlambat membayar, tetapi juga terkena bunga yang terus naik. Jika Anda terlalu sibuk sehingga sulit meninggalkan kantor atau lupa membayar, jadilah anggota online banking atau pay over the phone.
4. Sering mengambil cash advance, atau dana tunai. Cash advance biasanya diikuti dengan interest rate yang lebih tinggi daripada bunga purchase atau pembelanjaan (sekitar 4%). Belum lagi service fee-nya, yang bisa mencapai Rp 40.000 sekali transaksi. Masa mau mengambil uang tunai saja mesti membayar Rp 40.000? Sumber:Tribun Kaltim/kompas.com
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()


Banyak hal yang dapat menentukan produktivitas kita sebagai seorang pekerja di kantor. Salah satunya adalah suasana dan penataan ruangan. Semakin sehat dan nyaman penataannya, makin baik produktivitas karyawan. Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda usahakan di kantor.
1.
Miliki sandaran tempat duduk yang nyaman. Kursi yang nyaman adalah kursi yang bisa menyangga punggung bagian bawah dan bisa diatur ketinggiannya. Usahakan agar lutut Anda bisa berada dalam keadaan lurus dan telapak kaki bisa menjejak lantai dengan pas. Pastikan juga saat mengetik, Anda duduk tegak dan lengan Anda bisa beristirahat.
2.
Atur jarak monitor dengan Anda. Leher dan mata akan terasa lelah jika terlalu dekat atau terlalu jauh dari monitor. Jarak ideal antara monitor dengan Anda adalah antara 45-70 cm, dengan posisi sejajar pandangan mata yang lurus. Untuk menghindari kelelahan mata, jangan taruh komputer membelakangi jendela yang terang. Perlu diingat pula, usahakan agar tulang belakang Anda tetap lurus saat menghadapi komputer. Jangan menempatkan layar dan keyboard komputer menyerong di meja. Lama-kelamaan ini akan menimbulkan masalah pada tulang punggung Anda.
3. Gunakan kubikel dan sekat untuk memisahkan ruang Anda dengan rekan kerja lain. Privasi dan suasana yang tenang bisa membuat Anda lebih konsentrasi dalam bekerja.
4. Atur pencahayaan di ruangan kantor Anda. Cahaya yang cukup dan tidak berlebihan bisa memberikan semangat pada Anda untuk bekerja lebih giat. Terlalu gelap akan membuat kita sulit bekerja. Sebaliknya, terlalu banyak sinar dari lampu juga tak baik untuk kreativitas. Upayakan juga agar masih ada sinar matahari di dalam ruangan.
5. Hindari cedera pada leher karena terlalu banyak mengapit gagang telepon dengan pundak dan telinga Anda. Sebaiknya Anda membeli headset saja. Selain memberi Anda keleluasaan bergerak saat menelepon di kantor, Anda juga terhindar dari cedera.
6. Cari suhu/temperatur yang paling tepat dari pendingin udara untuk seluruh karyawan di ruangan Anda bekerja. Temperatur yang tepat amat baik untuk membantu Anda bekerja sebaik-baiknya. Terlalu dingin akan membuat otak Anda susah bekerja. Terlalu panas sehingga berkeringat pun akan membuat Anda tidak nyaman dalam bekerja.
7. Terakhir, kenangan-kenangan manis dari orang-orang yang memotivasi Anda untuk bangun dan bekerja setiap hari tentu amat patut disimpan di meja kerja. Maka, letakkan foto orang-orang terkasih (orangtua, pasangan hidup, kekasih, teman, saudara, dll) - plus hewan peliharaan Anda - di atas meja Anda.
Selamat bekerja...! Semoga produktivitas Anda dalam pekerjaan bisa terus meningkat dan Anda bisa meraih sukses yang dicita-citakan.
Sumber: http://www.andriewongso.com/awartikel-2950-Tahukah_Anda-7_Tips_Meningkatkan_Produktivitas_Kerja
Selengkapnya...
Posted in
Labels:
Tips dan Trik ()